MAKALAH SINTAKSIS KALIMAT BERITA, TANYA, SURUH

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Kalimat Berita

Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan. Yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat suruh. Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Kadang-kadang perhatian itu disertai anggukan, kadang-kadang pula disertai ucapan “ya”.

Kalimat berita adalah kalimat yang mendukung suatu pengungkapan peristiwa atau kejadian. Orang yang menyampaikan peristiwa tersebut, berusaha mengungkapkannya seobyektif mungkin. Ia boleh menyampaikan suatu hal secara langsung, yakni langsung mengucapkan tutur orang lain, atau menyampaikan secara tak langsung dengan pengolahannya sendiri. Oleh karena itu kalimat berita dapat berbentuk ucapan langsung atau ucapan tidak langsung.

 

 

Contoh:

  1. Ucapan langsung:
  • Ia mengatakan, “Saya  mau membayar hutang itu.”
  • “Dahulu orang yang masyhur itu berdiam di sini,” katanya sejurus kemudian.

 

  1. Ucapan tak langsung:
  • Ayah membeli sepeda motor
  • Ibu sering datang ke mari

Ciri-ciri formal yang dapat membedakan kalimat berita dari macam-macam kalimat yang lain hanyalah intonasinya yang netral, tak ada suatu bagian yang lebih dipentingkan dari yang lain. Susunan kalimat tak dapat dijadikan ciri-ciri karena susunannya hampir sama saja dengan susunan kalimat-kalimat lain. Kadang-kadang kita mendapat ciri formal lain, misalnya kata-kata tanya pada kalimat tanya, serta macam-macam kata tugas pada beberapa macam kalimat perintah.

 

Suatu bagian dari kalimat berita dapat dijadikan pokok pembicaraan. Dalam hal ini bagian tersebut dapat ditempatkan di depan kalimat, atau bagian yang bersangkutan mendapat intonasi yang lebih keras. Intonasi yang lebih keras yang menyertai kalimat berita semacam ini disebut intonasi pementing.

 

2.2 Kalimat Tanya

Yang dimaksud dengan kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung suatu permintaan agar kita diberitahu sesuatu karena kita tidak mengetahui sesuatu hal. Kalimat ini memiliki intonasi yang berbeda dengan pola intonasi kalimat berita. Perbedaannya terletak pada nada akhirnya. Pola intonasi kalimat berita bernada turun, sedangkan pola kalimat Tanya bernada akhir naik, di samping nada suku terakhir yang lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan nada suku terakhir pola intonasi kalimat berita. Bila kita membandingkan kalimat tanya dengan kalimat berita maka terdapat beberapa ciri yang dengan tegas membedakannya dengan kalimat berita.

Ciri-ciri tersebut adalah:

a. Intonasi yang digunakan adalah intonasi tanya.

b. Sering mempergunakan kata tanya.

c. Dapat pula mempergunakan partikel tanya –kah.

 

 

Kata- kata kah, apa, apakah, bukan dan bukankah dapat ditambahkan pada kalimat- kalimat Tanya. Kah dapat ditambahkan pada bagian kalimat yang ditanyakan kecuali pada S. di samping itu, ada kecenderungan untuk meletakkan bagian kalimat yang ditanyakan itu di awal kalimat. Misalnya :

(1)  Pergikah Ahmad?

(2)  Sudah bangunkah anak-anak?

(3)  Belum pulangkah Ayahnya?

(4)  Masih belajarkah murid itu?

Kah tidak dapat diletakkan di bagian belakang S kalimat-kalimat Ahmad, anak-anak, ayahnya, murid itu. Misalnya :

(1)  Ahmadkah pergi?

(2)  Anak-anakkah sudah bangun?

(3)  Ayahkah belum pulang?

(4)  Murid itukah masih belajar?

Contoh diatas merupakan kalimat yang tidak gramatik. Jika menambahkan unsur kah pada kalimat tersebut, maka perlu penambahan kata yang hingga kalimat- kalimat itu menjadi :

(1)  Ahmadkah yang pergi?

(2)  Anak-ankakkah yang bangun?

(3)  Ayahkah yang belum pulang?

(4)  Murid itukah yang masih belajar?

Akan tetapi, dengan demikian unsur Ahmadkah,anak-anakkah , ayahnyakah, murid itukah tidak lagi menduduki fungsi S. melainkan menduduki fungsi P.

Kata apa dan apakah sebagai pembentuk kalimat Tanya selalu terletak di awal kalimat. Misalnya:

(1)  Apa Ahmad pergi?

(2)  Apakah Ahmad pergi?

(3)  Apa anak-anak sudah bangun?

Kata bukan selalu terletak di akhir kalimat, sebaliknya bukankah selalu terletak di awal kalimat. Misalnya:

(1)  Ahmad pergi. Bukan?

(2)  Bukankah Ahmad pergi?

 

Pada contoh kalimat-kalimat Tanya diatas merupakan kalimat yang membutuhkan jawaban mengiakan atau menidakkan. Untuk mengiakan digunakan kata ya atau sudah. Untuk menidakkan menggunakan kata bukan atau belum. Oleh karena itu kalimat-kalimat Tanya itu disebut kalimat ya-tidak. Di samping itu, terdapat kalimat Tanya yang memerlukan jawaban yang memberi penjelasan. Kalimat Tanya golongan ini ditandai oleh adanya kata Tanya yang bersifat menggantikan kata atau kata-kata yang di tanyakan. Kata-kata Tanya itu ialah apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, mana, bilamana, kapan, bila, dan berapa.

-        Apa

Kata Tanya apa digunakan untuk menanyakan benda, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya:

Petani itu membawa apa?

Anak itu melihat apa?

Kata apa dalam kalimat-kalimat tersebut dapat dipindahkan ke awal kalimat. Jika demikian kata kerja kalimat-kalimat itu harus diubah menjadi kata kerja pasif dan didahului kata yang hingga kalimat-kalimat itu menjadi:

            Apa yang dibawa petani itu?

Apa yang dilihat anak itu?

Selain penggunaan diatas kata tanya apa juga digunakan untuk menanyakan identitas. Misalnya:

            Anak itu membaca buku apa?(menanyakan identitas buku)

            Ia menyaksikan pertunjukan apa?(menanyakan identitas pertandingan)

Kata apa disitu tidak dapat dipindahkan ke awal kalimat karena kata itu membentuk satu frase dengan kata kata buku, pertandingan. Dan berfungsi sebagai atribut yang mempunyai letak yang tetap di bagian belakang unsur pusatnya. Oleh karena itu yang dapat dipindahkan ke awal kalimat ialah buku apa, pertandingan apa. Sehingga kalimat-kalimat itu menjadi:

            Buku apa yang dibaca anak itu?

            Pertandingan apa yang disaksikannya?

 

-        Siapa

Kata Tanya siapa digunakan untuk menanyakan Tuhan, malaikat, Dan Manusia. Misalnya :

(1)  Nama anak itu siapa?

(2)  Yang patut disembah siapa?

(3)  Yang menulis surat ini siapa?

Kata siapa dipindahkan ke awal kalimat sehingga kalimat-kalimat itu menjadi :

(1)  Siapa nama anak itu?

(2)  Siapa yang patut disembah?

(3)  Siapa yang menulis surat ini?

 

-        Mengapa

Kata Tanya mengapa  digunakkan untuk menanyakan perbuatan. Misalnya:

(1)  Anak-anak itu sedang mengapa?

(2)  Pegawai itu mengapa?

(3)  Orang itu mengapa?

Sedang mengapa dan akan mengapa dapat dipendekkan menjadi sedang apa dan akan apa.selain menanyakan perbuatan, kata Tanya mengapa dipakai juga untuk menanyakan sebab. Misalnya:

(1)  Mengapa kepala kantor itu marah?

(2)  Mengapa banyak mahasiswa tidak mengikuti kuliah hari ini?

(3)  Mengapa kemarin anak itu berjalan kaki saja?

 

-        Kenapa

kata Tanya kenapa digunakan untuk menanyakan sebab seperti halnya pada kata Tanya mengapa.misalnya :

(1)  Kenapa musuh tidak berani menyerang pertahanan tentara Indonesia?

(2)  Kenapa Ahmad tidak pergi ke sekolah?

(3)  Kenapa Ayahmu tidak mengizinkan?

 

-        Bagaimana

Kata Tanya bagaimana digunakkan untuk menanyakan keadaan. Misalnya:

(1)  Bagaimana nasib anak itu?

(2)  Studi anak saya bagaimana?

(3)  Ujiannya bagaimana?

Disamping menanyakan keadaan. Kata Tanya bagaimana digunakan juga untuk menanyakan cara. Yaitu cara suatu perbuatan dilakukan atau cara suatu peristiwa terjadi. Misalnya:

(1)  Bagaimana pencuri dapat memanjat dinding setinggi itu?

(2)  Bagaimana orang itu dapat menjadi kaya?

(3)  Bagaimana utusan itu dapat sampai disini sepagi ini?

(4)  Bagaimana kecelakaaan itu bias terjadi?

 

 

-        Mana

Kata Tanya mana dipakai untuk menanyakan tempat. Dimana menanyakan tempat berada, darimana menanyakan tempat asal atau tempat yang ditinggalkan, dan kemana menanyakan tempat yang dituju. Misalnya:

(1)  Penguasa itu bertempat tinggal dimana?

(2)  Darimana pelajar itu mendapat buku baru?

(3)  Nenek pergi kemana?

Kata Tanya mana sering juga digunakan tanoa di dahului kata depan di, dari, atau ke untuk menanyakan tempat. Misalnya:

(1)  Dia orang mana?

(2)  Buatan mana sepeda itu?

(3)  Mana adikmu?

Kata Tanya mana juga dipakai untuk menanyakan sesuatu atau seseorang dari suatu kelompok. Dalam hal ini kata Tanya mana itu didahului oleh kata yang, menjadi yang mana. Misalnya:

(1)  Sepedamu yang mana?

(2)  Buku yang mana yang kau inginkan?

(3)  Rumah pedagang itu yang mana?

Disamping itu kata Tanya mana digunakan juga untuk menanyakan sesuatu atau seseorang yang telah dijanjikan orang kepada si penanya misalnya, pada suatu hari A bertemu dengan B. terjadilah percakapan sebagai berikut:

A: Kemarin saya mendapat buku baru.

B: boleh saya pinjam barang dua hari saja?

A: tentu, tetapi tidak saya bawa. Besok pagi saya bawakan.

Keesokan harinya A dan B bertemu pula. B bertanya :

Mana bukunya?

 

 

 

 

-        Bilamana, bila, dan Kapan

Ketiga kata Tanya itu digunakan untuk menanyakan waktu. Misalnya:

(1)  Bilamana karyawan itu akan menyelesaikan pekerjaannya?

(2)  Sejak kapan kapal terbang itu mengalami kerusakan?

(3)  Bila bapak guru akan pulang?

-        Berapa

Kata Tanya berapa digunakan untuk menanyakan jumlah dan bilangan. Yang menanyakan jumlah, misalnya :

(1)  Ayam peternak itu berapa?

(2)  Berapa harga buku ini?

(3)  Berapa jumlah penduduk pulau jawa?

Yang menanyakan bilangan. Misalnya:

(1)  Nomor teleponmu berapa?

(2)  Sekarang jam berapa?

(3)  Sudah sampai halaman berapa engkau membaca buku itu?

Partikel kah dapat ditambahkan pada kata-kata Tanya diatas untuk lebih menegakkan pertanyaan sehingga disamping apa, siapa, mengapa, kenapa, bagaimana, mana, bilamana, kapan, bila, dan berapa terdapat apakah, siapakah, mengapakah, kenapakah, bagaimanakah, manakah, kapankah, bilakah, dan berapakah.

Fungsi berbagai kata Tanya diatas ditentukan berdasarkan kemungkinan kalimat jawabannya. Kata Tanya apa berbeda dengan kata Tanya siapa. Misalnya, kalimat ia memukul apa? Menghendaki jawaban ia memukul batu anjing. Batang pohon pisang. Tetapi kalimat “ia memukul siapa?” Menghendaki jawaban ia memukul ahmad, adiknya teman teman sekelasnya. Dan kalimat ia menyembah siapa menghendaki jawaban ia menyembah Tuhan. Jelaslah bahwa kata apa menanyakan benda, hewan, tumbuh tumbuhan. Sedangkan kata Tanya siapa menanyakan orang, Tuhan, dan juga Malaikat.

Kata Tanya mengapa mempunyai dua kemungkinan jawaban. Pertanyaan “ia sedang mengapa?” Menghendaki jawaban  ia sedang menulis surat, membaca, mencangkul. Dan sebagainya yang semuanya menyatakan perbuatan. Jadi, kata Tanya mengapa disitu menanyakan suatu perbuatan. Tetapi dalam kalimat “mengapa kemarin anak itu berjalan kaki saja?” Pertanyaan itu menghendaki jawaban karena sepedanya rusak, karena ban sepedanya pecah, karena tidak mempunyai uang untuk naik becak, dan sebagainya. Jadi kata Tanya mengapa disitu menghendaki jawaban yang diawali dengan kata karena atau dengan kata lain. Kata Tanya mengapa menanyakan sebab. Demikian pula kata Tanya kenapa.

Kata Tanya bagaimana dalam kalimat “bagaimana nasib anak itu?” Menghendaki jawaban nasib anak itu baik, jelek, kurang beruntung, yang semua nya menyatakan keadaan. Maka dikatakan bahwa kata Tanya bagaimana dalam kalimat itu menanyakan keadaan. Berbeda dengan kata Tanya bagaimana dalam kalimat “bagaimana orang itu dapat menjadi kaya?” Yang menghendaki jawaban yang diawali dengan kata dengan sebagi penanda cara, misalnya orang itu dapat menjadi kaya dengan bekerja keras, dengan menghemat, dengan menaabung di bank, dengan mencuri, dan sebagainya. Maka dijelaskan bahwa kata Tanya bagaimana disitu menanyakan cara.

Kata Tanya mana menanyakan tempat misalnya dalam kalimat “nenek pergi kemana?” Yang dapat dijawab ke Surabaya, ke Jakarta, yang semuanya menanyakan tempat. Dalam kalimat “buatan mana sepeda itu?” Menghendaki jawaban buatan jepang, buatan dalam negeri. Yang semuanya juga menanyakan tempat. karena itu, kata Tanya mana disitu dapat dijelaskan sebagai kata Tanya yang menanyakan tempat.

Kata Tanya mana menanyakan dijelaskan sebagai kata Tanya yang menanykan sesuatu atau sesorang dalam suatu kelompok.

Kata Tanya bilamana, kapan, dan bila jelas menanyakan waktu karena menghendaki jawaban menyatakan waktu, dan yang terakhir kata Tanya berapa menanyakan jumlah atau bilangan karena menghendaki jawaban yang menyatakan jumlah atau bilangan.

 

 

 

 

 

 

2.3 Kalimat Suruh (perintah)

Yang disebut perintah adalah menyuruh orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. Perintah meliputi suruhan yang keras hingga ke permintaan yang sangat halus. Begitu pula suatu perintah dapat ditafsirkan sebagai pernyataan mengijinkan seseorang untuk mengerjakan sesuatu, atau menyatakan syarat untuk terjadinya sesuatu, malahan sampai kepada tafsiran makna ejekan atau sindiran.

Suatu perintah dapat pula berbalik dari menyuruh berbuat sesuatu menjadi mencegah atau melarang berbuat sesuatu. Makna mana yang didukung oleh kalimat perintah tersebut, tergantung pula dari situasi yang dimasukinya.

Berdasarkan strukturnya kalimat suruh dapat digolongkan menjadi empat golongan yaitu :

  1. Kalimat suruh yang sebenarnya

Kalimat suruh yang sebenarnya ditandai oleh pola intonasi suruh. Selain daripada itu apabila P nya terdiri dari kata verbal intrasitif. Bentuk kata verbal itu tetap, hanya partikel lah dapat ditambahkan pada kata verbal itu untuk menghaluskan perintah. S nya yang berupa persona kedua boleh dibuangkan juga tidak. Misalnya

(1)  Duduk!

(2)  Beristirahatlah!

(3)  Datanglah engkau kerumahku!

(4)  Tertawalah engkau sepuas puasnya!

(5)  Berangkatlah sekarang juga!

Apabila P nya terdiri dari kata verbal transitif, kalimat suruh yang sebenarnya itu, selain ditandai oleh intonasi suruh juga oleh tidak adanya prefiks meN- pada kata verbal transitif itu. Partikel lah dapat ditambahkan pada kata verbal itu untuk menghaluskan suruhan. Misalnya:

(1)  Belilah buku ke toko buku gramedia!

(2)  Carilah buku baru ke perpustakaan!

(3)  Pakai baju yang bersih!

(4)  Minumlah susu dahulu!

(5)  Ambillah buku itu!

Mengingat hal tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa unsur buku, buku baru, baju yang bersih, dan susu pada kalimat diatas menduduki fungsi O, sedangkan unsur buku itu pada kalimat diatas menduduki fungsi S. dalam bahasa Indonesia O tidak pernah terletak di muka P, berbeda dengan S. yang dapat terletak di muka P dan dapat pula terletak di belakangnya yaitu dalam kalimat inversi.

Apabila kata kerja transitif itu digunakan secara absolut, maksudnya tidak diikuti O, prefiks meN- itu tidak hilang. Misalnya:

(1)  Kalau Sdr. Ingin menjahit, menjahitlah disini!

Untuk mrmperhalus suruhan, disamping menambah partikel lah, kata tolong dapat dipakai di muka kata kerja yang benefaktif, ialah kata kerja yang menyatakan tindakan yang dimaksudkan bukan untuk kepentingan pelakunya. Misalnya:

(1)  Tolong ambilkan minuman saya!

 

  1. Kalimat Persilahan

Selain ditandai oleh pola intonasi suruh. Kalimat persilahan ditandai juga oleh penambahan kata silahkan. Yang diletakkan di awal kalimat. S kalimat boleh dibuangkan boleh juga tidak. Misalnya:

(1)  Silahkan Bapak duduk disini!

  1. Kalimat Ajakan

Sama halnya dengan kalimat persilahan dan kalimat suruh yang sebenarnya, kalimat ajakan ini berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, juga mengharapkan suatu tanggapan yang berupa tindakan. Hanya perbedaannya tindakan itu disini bukan hanya dilakukan oleh orang yang diajak berbicara, melainkan oleh orang yang berbicara atau penuturnya.

Di samping ditandai oleh pola intonasi suruh, kalimat ini ditandai oleh adanya kata-kata ajakan, ialah kata mari, ayo yang diletakkan di awal kalimat. Partikel lah dapat ditambahkan pada kedua kata yaitu menjadi marilah, atau ayolah. S boleh dibuangkan, boleh juga tidak. Misalnya:

(1)  Mari kita berangkat sekarang!

(2)  Marilah belajar ke perpustakaan pusat!

(3)  Ayo kita bermain sepak bola!

(4)  Ayolah duduk di depan!

 

 

  1. Kalimat Larangan

Disamping di tandai oleh pola intonasi suruh, kalimat larangan ditandai juga oleh adanya kata jangan diawal kalimat. Partikel lah dapat di tambahkan pada kalimat tersebut untuk memperhalus kalimat. S kalimat boleh dibuang ataupun tidak. Misalnya:

(1)  Jangan engkau membaca buku itu!

(2)  Jangan lah engkau berangkat sendiri!

(3)  Jangan suka menyakiti hati orang!

(4)  Jangan dibawa pulang buku itu!

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Berdasarkan fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu:

-        Kalimat Berita

-        Kalimat Tanya

-        Kalimat Suruh

Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada pandangan mata yang menunjukkan adanya perhatian. Kadang-kadang perhatian itu disertai anggukan, kadang-kadang pula disertai ucapan “ya”.

Kalimat tanya adalah kalimat yang mengandung suatu permintaan agar kita diberitahu sesuatu karena kita tidak mengetahui sesuatu hal.

Kalimat suruh adalah kalimat yang mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang yang diajak berbicara.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://mustolihbrs.wordpress.com/2011/12/04/sintaksis-bahasa-indonesia/

http://tugaskuliah-ilham.blogspot.com/2011/03/sintaksis_21.html

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: